Ternyata alasannya jelas: persaingan antar negara. Persaingan bisnis kini tidak lagi hanya persaingan antar perusahaan. Sudah antarnegara.
Malaysia memiliki itu. Singapura juga memilikinya –meski dibangun di negara lain. Maka ekspor produk halal Malaysia lebih besar daripada Indonesia. Bahkan Singapura pun lebih besar dari Indonesia.
Saya lihat ini tidak hanya soal syariah. Tapi juga soal marketing. Bahkan marketing tingkat negara. Halal ternyata dilihat tidak hanya dari kandungan makanan itu. Juga dari prosesnya.
Halal menyangkut isinya. Toyib menyangkut prosesnya. Maka kawasan industri halal untuk bersaing di pasar halalan thayyiban.
Sebenarnya PP soal kawasan industri halal diharapkan sudah turun di zaman Presiden Jokowi. Wapres kala itu, KH Ma'ruf Amin, sudah meninjau kawasan di Sidoarjo timur itu.
Kami pun makan siang di pendapa Kabupaten Sidoarjo. Sekaligus diskusi: kiat-kiat keberhasilan para pengusaha kecil itu. Di situ tampil M. Mukhlis. Anggota rombongan asal Sidoarjo. Dari jualan pentol (bakso) pakai sepeda keliling di desa-desa sampai menjadi ''konglomerat pentol'' di Sidoarjo.
Kakaknyalah yang awalnya jualan pentol. Ia hanya membantu sang kakak –sambil sekolah di madrasah aliyah. Siang malam ia bekerja. Mulai ikut memasak sampai menjualnya keliling desa.
Kini Mukhlis sudah punya 200 outlet Pentol Kabul. Di luar itu ia sudah punya 600 pelanggan yang akan jualan pentol di wilayah masing-masing.
Di rombongan ini juga ada seorang wanita sangat muda. Masih jomblo. Namanyi Rizqi Laila Rohma. Dari Ringinrejo, Kediri. Bisnisnyi: SiniNgaji. Dia membuka pelajaran mengaji Quran online.
Jumlah siswanyi: 6000 orang. Guru ngajinyi sudah 250 orang. Masih begitu muda sudah bisa menggaji 250 guru ngaji.
Hari itu, kumpul mereka, saya ketularan optimistis. Juga merasa kembali seumur dengan mereka. (Dahlan Iskan)